Penjajah dan Bintang 15 Mei 2012
Posted by waluyos in Uncategorized.add a comment
This slideshow requires JavaScript.
Apa yang terlintas di pikiran kita ketika mendengar kata malam? Gelap, bintang, bulan, mungkin sebagian besar otak kita dipenuhi dengan bayangan kondisi bumi yang gelap dan langit yang bertabur bintang. Ada kalimat yang menarik yaitu langit yang bertabur bintang, ya dalam kalimat tersebut berarti bahwa bintang itu berukuran kecil dan jumlahnya banyak di langit. Pernah tahu bahwa bintang di langit tersebut sebenarnya bisa berukuran sama atau lebih besar dari pada matahari? Para ahli di dunia telah membuktikan demikian, lantas apakah kita berhenti pada kata para ahli? Tidak, ada hal yang beruntung yang bisa kita lanjutkan dari sekedar kalimat itu, yaitu kita dapat membuktikannya langsung.
Indonesia patut bersyukur karena Indonesia memiliki observatorium yang mampu digunakan untuk mengamati benda langit, yaitu Observatorium Bosscha. Luar biasa bukan! Eitts… tunggu dulu, pertanyaanya siapa yang membuat Observatorium Bosscha tersebut.
Observatorium Bosscha (dahulu bernama Bosscha Sterrenwacht) dibangun oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) atau Perhimpunan Bintang Hindia Belanda. Pada rapat pertama NISV, diputuskan akan dibangun sebuah observatorium di Indonesia demi memajukan Ilmu Astronomi di Hindia Belanda. Dan di dalam rapat itulah, Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang Belanda dan tuan tanah di perkebunan teh Malabar, bersedia menjadi penyandang dana utama dan berjanji akan memberikan bantuan pembelian teropong bintang. Sebagai penghargaan atas jasa K.A.R. Bosscha dalam pembangunan observatorium ini, maka nama Bosscha diabadikan sebagai nama observatorium ini.
Pembangunan observatorium ini sendiri menghabiskan waktu kurang lebih 5 tahun sejak tahun 1923 sampai dengan tahun 1928.
Publikasi internasional pertama Observatorium Bosscha dilakukan pada tahun 1933. Namun kemudian observasi terpaksa dihentikan dikarenakan sedang berkecamuknya Perang Dunia II. Setelah perang usai, dilakukan renovasi besar-besaran pada observatorium ini karena kerusakan akibat perang hingga akhirnya observatorium dapat beroperasi dengan normal kembali.
Kemudian pada tanggal 17 Oktober 1951, NISV menyerahkan observatorium ini kepada pemerintah RI. Setelah Institut Teknologi Bandung (ITB) berdiri pada tahun 1959, Observatorium Bosscha kemudian menjadi bagian dari ITB. Dan sejak saat itu, Bosscha difungsikan sebagai lembaga penelitian dan pendidikan formal Astronomi di Indonesia.
Sampai saat ini Observatorium Bosscha memegang peranan penting bagi perkembangan ilmu astronomi dunia, karena merupakan satu-satunya observatorium yang berada di khatulistiwa dan merupakan satu-satunya obseravtorium di Asia Tenggara.
Keberadaan Belanda di Indonesia selain menjajah, di lain pihak inovasi dan kreativitasnya sangat bermanfaat dan bisa dikatakan tidak ternilai. Bagaimana tidak, karena Observatorium ini memberikan manfaat bagi ilmu pengetahuan. Observatorium Bosscha merupakan aset dunia dan Indonesia yang harus kita jaga. Melihat maha karya Belanda di Indonesia saja sudah membuatku terbelalak, apalagi kalau di negara aslinya ya? Wah jadi semakin ngiler saja nih! OK, berhenti membayangkan, harus yakin bisa ke sana tahun ini. Sekarang saatnya mengganti “Menulislah dan Belanda Menanti” dengan “Aku Yakin ke Belanda Tahun Ini” (maaf ya admin!!). Semangat Slamet Waluyo!
“When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it”
-Paulo Cuelho-
Sumber :
http://bosscha.itb.ac.id/in/tentang-bosscha.html
http://3.bp.blogspot.com/_ZmX-xUE212w/TIAwIVuLdfI/AAAAAAAAAUE/_Q4rHGkRIsk/s1600/u45_eDSC08965w.jpg
ITB, Kreativitas Tinggi Netherlander 15 Mei 2012
Posted by waluyos in Uncategorized.Tags: Belanda, ITB
add a comment
This slideshow requires JavaScript.
“Disini kami tempa diri, pribadi tangguh nan berbudi
Kami ingin dapat berbuat, untuk jaya tanah airku”
Itulah lirik yang sampai sekarang masih terngiang di telinga sejak pertama kali menginjakkan kaki di kampus Ganesha. Menjadi mahasiswa baru di kampus yang cukup terkenal di Indonesia tersebut belum menjadi jaminan aku telah mengenal baik Institut Teknologi Bandung (ITB). Banyak sekali hal yang ternyata tersembunyi di dibalik tua dan kecilnya kampus ini, yaitu mengenai sejarah keberadaannya, yang tak lain adalah campur tangan penjajah saat itu yaitu Belanda. Pendirian kampus ITB dipelopori oleh kelompok filantropis masyarakat Belanda yang berprofesi sebagai pemilik Perkebunan di Priangan (Preangerplanters) terdiri dari E.J Kerhoven dan kemenakannya K.A.R Bosscha. Pada awal pendiriannya Perguruan Teknik di Bandung ini direncanakan dengan mutu pelajaran setara dengan perguruan tinggi di Delft (TU Delft).
Kampus Technische Hoogeschool (TH) te Bandoeng-baca ITB-diresmikan oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda Mr. J.P Graaf van Limburg Stirum (1916-1921) pada 3 Juli 1920. Kampus ITB semula dibatasi oleh Jl. Ganesa di sisi selatan dan Jl. Tamansari di sisi barat dan utara; kini telah berkembang ke kawasan Lebak Siliwangi yang terletak di sepanjang Jl. Tamansari.
Pada awalnya kompleks ITB hanya terdiri dari tiga unit bangunan utama dan beberapa unit bangunan pendukung. Unit-unit bangunan tersebut mulai dari gerbang masuk utama pada bagian selatan, semuanya dihubungkan oleh peristy/selasar dengan kolom-kolom dari susunan batu kali. Batu kali dan bahan-bahan seperti kayu, dinding batu, jalan setapak yang diekspos serta atap bangunan sirap dimaksudkan untuk memberikan kesan alamiah sekaligus merupakan respon terhadap iklim tropis.
Bangunan utama kampus, yakni Aula Barat dan Aula Timur, dirancang oleh Ir. Henri Maclaine Pont, menjadi sebuah eksperimen seni bangunan dalam memadukan langgam arsitektur tradisional nusantara dengan kemajuan teknik konstruksi modern. Langgam ini dikenal sebagai Arsitektur Indis. Kompleks bangunan kampus ITB yang memiliki atap sirap, dahulu sempat dijuluki masyarakat Bandung sebagai Gedong Sirap.
Saat masterplan kampus disiapkan, di bagian selatan jalan Ganesha juga dibangun sebuah taman untuk menghormati jasa-jasa Dr. Ir. J. W Ijzerman, dengan sebutan Ijzerman Park. Taman ini dirancang dengan bentuk dan gaya Indische Tropische Park; sebuah gagasan tentang lanskap tropis daerah priangan yang diciptakan/ dipromosikan oleh kelompok Bandoeng Vooruit. Namun demikian penataan lanskap taman tidak lepas dari pengaruh taman gaya prancis dan Italia pada akhir abad pertengahan menjelang renaisans. Taman yang sekarang ini bernama Taman Ganesa, merupakan bagian dari kampus TH. Taman berbentuk bundar oval dan simetris ini dilengkapi dengan kolam air mancur dan semacam teras pada bagian yang lebih tinggi. Di sekitar teras dihiasi oleh pilar-pilar batu kali dengan tanaman rambat khas ITB, pyrotesgia. Menurut catatan ahli botani Dr. L. Van der Pijl (1950), vegetasi ini merupakan tanaman rambat yang khusus didatangkan dari Amerika Selatan lewat Australia oleh A. Kerkhoven untuk menghias kampus ITB (H. Kunto, 1984).
Masterplan yang dibuat Belanda dalam merancang ITB memang luar biasa, maka tak heran bila dikatakan Belanda memiliki kreativitas –dalam KBBI kreativitas berarti kemampuan untuk mencipta;daya cipta- yang tinggi dan berkelas. Sehingga sampai sekarangpun bangunan yang dibuat Belanda masih menjadi ikon utama ITB.
Sumber:
http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:ITB_1.jpg&filetimestamp=20061122130508
First Adventure : Manglayang 2 Januari 2012
Posted by waluyos in Perjalanan.add a comment
Belum lama ini saya menyempatkan untuk mendaki gunung Manglayang. Kami berempat –aku dan 3 orang kawan- berangkat dari Bandung sekitar pukul 09.30 a.m, sebenarnya Manglayang bukan tujuan utama pendakian kami, tetapi Gunung Gede Pangrango, karena kendala booking tempat dan alasan tertentu kami harus menelan kekecewaan dengan membatalkan pendakian ke Gunung Gede. Dengan berbagai pertimbangan kami memilihi untuk mendaki gunung disekitar Bandung saja, terlebih belum ada pengalaman mendaki gunung tinggi, pilihan jatuh pada Gunung Manglayang.
Manglayang merupakan salah satu gunung di Bandung, tepatnya terletak di antara Kabupaten Bandung dan Sumedang. Gunung Manglayang memiliki ketinggian 1800 mdpl, termasuk gunung yang rendah sehingga jarang dikenal oleh para pendaki. Kebanyakan pendaki gunung ini berasal dari daerah Bandung dan sekitarnya. Menurut legenda, Manglayang adalah salah satu gunung yang berasal dari sisa pohon yang digunakan pada perahu legenda Sangkuriang, sehingga satu rangkaian dengan gunung Burangrang-Tangkuban Perahu-Bukit Tunggul –Manglayang.
Berbekal perlengkapan kemping sederhana –tenda gama, kompor &masting,sleeping bag,matras- yang kesemuanya itu kami sewa, kami berangkat mendaki. Perjalanan dimulai dari terminal bus Dipati Ukur (Bandung) menuju Jatinangor (Sumedang). Perjalanan ini seharusnya memakan waktu tidak sampai satu jam tetapi karena macet yang terjadi di daerah Bandung, kami sampai di Jatinangor pukul 11 a.m . Kami langsung menuju kampus Unpad Jatinangor untuk sholat Jumat dan melengkapi beberapa logistik yang belum lengkap. Beres sholat Jumat kami mencari angkutan untuk menuju pos pendakian.
Trek pendakian Gunung Manglayang yang biasa dilewati melalui tiga jalur yaitu Barubereum (Jatinangor), Wana Wisata Situs Batu Kuda (Kab. Bandung), dan Palintang (Ujung Berung, Kab. Bandung). Kami memilih lewat jalur Barubereum, karena akses cukup tahu dibanding akses lainnya. Ada beberapa alternative untuk menuju Barubereum, bisa dengan carter angkot, naik ojek, atau pilihan terakhir jalan kaki. Awalnya niat kami adalah numpang mobil kendaraan yang lewat, setelah dipikir-pikir itu tidak visible, lagi pula jarang sekali mobil bak terbuka yang lewat. Opsi berikutnya adalah sewa angkot karena ojek dipikir lebih mahal, dan kendalanya adalah jumlah kami yang terlalu sedikit hanya 4 orang dan kami pun bingung, pilihannya adalah makan siang dulu berharap ada ide cemerlang yang tiba-tiba muncul. Sempat terpikir untuk jalan kaki, tetapi kami coba untuk menghemat tenaga.
Beberapa kali nego dengan tukang angkot berharap agar ongkos tidak lebih dari 30 ribu, tetapi harus berhadapan dengan calo yang terbilang cukup alot, dan kami pun berdamai dengan tukang angkot dan si calo di angka 40 ribu, yo wis lah. Sampai di Barubereum ternyata tukang angkotnya masih minta tambahan biaya untuk si calo menyebalkan, kamipun iuran menyumbang seikhlasnya buat tukang angkot ini, sekali lagi yo wis lah.Pelajaran pertama ‘fix kan perjanjian ongkos apapun diawal’. Dari pemberhentian itu sebenarnya masih cukup jauh ke jalur pendakian tetapi karena jalannya yang rusak, si tukang angkot tidak mau naik. Saran bagi yang punya motor lebih baik motornya dipake dan dititipkan di Barubereum. Oke, berarti pendakian kami dimulai dari sini.
Meskipun tergolong rendah, Manglayang memiliki pemandangan yang menarik, cocok sekali bagi pendaki mula seperti kami. Sepanjang perjalanan yang kami temui adalah penduduk sekitar yang sedang bertani ataupun sedang mencari rumput, mereka biasa membawa rumput tanpa kendaraan hanya dengan memanggul, memikul ataupun menggendong yang biasa dilakukan oleh ibu-ibu. Dan terkadang bisa ditemui para penggiat sepeda.
Pos pendakian diawali dengan adanya warung sederhana, dari situlah mulai menanjak. Jalur pendakian cukup terjal dengan slope bisa mencapai sekitar 80 derajat, dan yang kami cukup repot dengan adanya hujan yang turun, karena jalurnya jadi licin. Di beberapa segmen kami harus merangkak karena vegetasi semak yang menutupi jalan, hal yang sebaiknya dilakukan adalah tangan tidak memegang barang bawaan untuk memudahkan pendakian.
Selama kurang lebih 3 jam akhirnya kami mencapai puncak bayangan, dan kami putuskan untuk tidak mencapai puncak sebenarnya karena viewnya disini jauh lebih indah, disini lapang dan tidak ada pohon sehingga dapat terlihat city sky Bandung dan Sumedang dan pegunungan-pegunungan lain dengan area pandang bisa mencapai 280 derajat, sedangkan di puncak sebenarnya rimbun dengan pohon sehingga tidak asyik buat foto-foto walaupun dengan waktu perjalanan yang tidak lama lagi. Kami mendirikan tenda ditebing dengan view yang sangat menarik, kiri dan kanan tenda jurang dengan jarak hanya sekitar 10 cm. Sempat takut karena angin yang cukup besar tetapi menurut pendaki lain yang kebetulan akan mendirikan tenda disitu, tempat yang kami tempati bisa dibilang VIP dan sering dipakai para pendaki dan tindakan yang harus dilakukan adalah memasang patok tenda dengan kuat.
Tenda berdiri dan kamipun sholat Ashar, beres-beres tempat dan tak lupa mengambil foto. Sunset tidak bisa dilewati dengan indah karena kabut tebal menyergap. Dan ketika malam beruntung angin cukup kencang sehingga kabut tidak ada, view kota Bandung dan Sumedang tampak jelas, sangat menarik dengan taburan lampu. Pelajaran penting kedua ‘harus membawa kamera setidaknya camdig’ kamera hape tidak cukup bagus, dan itu yang kami sesalkan karena sempat mencari pinjaman kamera digital tetapi hasilnya nihil.
***
Parahnya baru beberapa meter jalur yang kami temui berupa tebing terjal, dengan slope lebih gila dari jalur awal bisa mencapai 90 derajat, dan kami piker ini hanya beberapa meter saja. Setelah cukup jauh justru tebing terjal sering kami temui dan parahnya kanan kirinya jurang. Sebenarnya kami sudah curiga dari awal karena jalur ini sangat terjal tetapi entah kenapa kami nekad. Pelajaran penting keempat ‘jangan ambil resiko bila tidak tahu jalur, pertimbangkan dari awal’. Kami sempat menyalahkan betapa bodohnya kami, tapi daripada balik lagi akhirnya kami memilih berdamai dengan keadaan. Dan akhir dari jalur ini adalah jalur pendakian petani, dan beberapa kali kali kesulitan menentukan arah karena jalan terhalang pepohonan dan tampaknya lama tidak dilewati. Jatuhnya malah lebih lama sampai ke pos awal. That really freak!
Sampai di pos awal kami langsung ‘balas dendam’ minum air sebanyak-banyaknya. Dan bingung ke terminal Jatinangornya gimana. Blank!, akhirnya jalan kaki dari pos awal sampai terminal Jatinangor, beuh pegelnya!, bagaimana lagi hape mokat, sekali lagi yo wis lah!. Sepanjang perjalanan pulang kami coba untuk menghibur diri, tentu saja dengan mengingat-ingat indahnya waktu di puncak Manglayang. Oke, beres pendakian Manglayang.
The next adventures : Gunung Gede, Bromo, Mahameru, Sumbing, Sindoro dan masih banyak lainnya Bung!.
Gurindam Dua Belas 29 Oktober 2011
Posted by waluyos in Uncategorized.add a comment
Gurindam Dua Belas
karya: Raja Ali Haji
Barang siapa tiada memegang agama
Segala-gala tiada boleh dibilang nama
Barang siapa mengenal yang empat
Maka yaitulah orang yang ma’rifat
Barang siapa mengenal Allah
Suruh dan tegaknya tiada ia menyalah
Barang siapa mengenal diri
Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri
Barang siapa mengenal dunia
Tahulah ia barang yang terpedaya
Barang siapa mengenal akhirat
Tahulah ia dunia mudharat
2
Barang siapa mengenal yang tersebut
Tahulah ia makna takut
Barang siapa meninggalkan sembahyang
Seperti rumah tiada bertiang
Barang siapa meninggalkan puasa
Tidaklah mendapat dua termasa
Barang siapa meninggalkan zakat
Tiadalah hartanya beroleh berkat
Barang siapa meninggalkan haji
Tiadalah ia menyempurnakan janji
3
Apabila terpelihara mata
Sedikitlah cita-cita
Apabila terpelihara kuping
Khabar yang jahat tiadalah damping
Apabila terpelihara lidah
Niscaya dapat daripadanya faedah
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
Daripada segala berat dan ringan
Apabila perut terlalu penuh
Keluarlah fi’il yang tidak senonoh
Anggota tengah hendaklah ingat
Di situlah banyak orang yang hilang semangat
Hendaklah peliharakan kaki
Daripada berjalan yang membawa rugi
4
Hati itu kerajaan di dalam tubuh
Jikalau zalim segala anggota tubuh pun rubuh
Apabila dengki sudah bertanah
Datanglah daripadanya beberapa anak panah
Mengumpat dam memuji hendaklah pikir
Di situlah banyak orang yang tergelincir
Pekerjaan marah jangan dibela
Nanti hilang akal di kepala
Jika sedikitpun berbuat bohong
Boleh diumpamakan mulutnya itu pekung
Tanda orang yang amat celaka
Aib dirinya tiada ia sangka
Bakhil jangan diberi singgah
Itulah perompak yang amat gagah
Barang siapa yang sudah besar
Janganlah kelakuannya membuat kasar
Barang siapa perkataan kotor
Mulutnya itu umpama ketor
Di manakah salah diri
Jika tidak orang lain yang berperi
Pekerjaan takbur jangan direpih
Sebelum mati didapat juga sepih
5
Jika hendak mengenal orang berbangsa
Lihat kepada budi dan bahasa
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia
Sangat memeliharakan yang sia-sia
Jika hendak mengenal orang mulia
Lihatlah kepada kelakuan dia
Jika hendak mengenal orang yang berilmu
Bertanya dan belajar tiadalah jemu
Jika hendak mengenal orang yang berakal
Di dalam dunia mengambil bekal
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai
Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai
6
Cahari olehmu akan sahabat
Yang boleh dijadikan obat
Cahari olehmu akan guru
Yang boleh tahukan tiap seteru
Cahari olehmu akan isteri
Yang boleh menyerahkan diri
Cahari olehmu akan kawan
Pilih segala orang yang setiawan
Cahari olehmu akan abdi
Yang ada baik sedikit budi
7
Apabila banyak berkata-kata
Di situlah jalan masuk dusta
Apabila banyak berlebih-lebihan suka
Itu tanda hampirkan duka
Apabila kita kurang siasat
Itulah tanda pekerjaan hendak sesat
Apabila anak tidak dilatih
Jika besar bapanya letih
Apabila banyak mencat (mencacat?) orang
Itulah tanda dirinya kurang
Apabila orang yang banyak tidur
Sia-sia sajalah umur
Apabila mendengar akan kabar
Menerimanya itu hendaklah sabar
Apabila mendengar akan aduan
Membicarakannya itu hendaklah cemburuan
Apabila perkataan yang lemah lembut
Lekaslah segala orang mengikut
Apabila perkataan yang amat kasar
Lekaslah orang sekalian gusar
Apabila pekerjaan yang amat benar
Tidak boleh orang berbuat onar
8
Barang siapa khianat akan dirinya
Apalagi kepada lainnya
Kepada dirinya ia aniaya
Orang itu jangan engkau percaya
Lidah suka membenarkan dirinya
Daripada yang lain dapat kesalahannya
Daripada memuji diri hendaklah sabar
Biar daripada orang datangnya kabar
Orang yang suka menampakkan jasa
Setengah daripadanya syirik mengaku kuasa
Kejahatan diri disembunyikan
Kebajikan diri diamkan
Ke’aiban orang jangan dibuka
Ke’aiban diri hendaklah sangka
9
Tahu pekerjaan tak baik tetapi dikerjakan
Bukannya manusia yaitulah syaitan
Kejahatan seorang perempuan tua
Itulah iblis punya penggawa
Kepada segala hamba-hamba raja
Di situlah syaitan tempatnya manja
Kebanyakan orang yang muda-muda
Di situlah syaitan tempat bergoda
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan
Di situlah syaitan punya jamuan
Adapun orang tua(h) yang hemat
Syaitan tak suka membuat sahabat
Jika orang muda kuat berguru
Dengan syaitan jadi berseteru
10
Dengan bapa jangan derhaka
Supaya Allah tidak murka
Dengan ibu hendaklah hormat
Supaya badan dapat selamat
Dengan anak janganlah lalai
Supaya boleh naik ke tengah balai
Dengan kawan hendaklah adil
Supaya tangannya jadi kapil
11
Hendaklah berjasa
Kepada yang sebangsa
Hendak jadi kepala
Buang perangai yang cela
Hendaklah memegang amanat
Buanglah khianat
Hendak marah
Dahulukan hujjah
Hendak dimalui
Jangan memalui
Hendak ramai
Murahkan perangai
12
Raja mufakat dengan menteri
Seperti kebun berpagarkan duri
Betul hati kepada raja
Tanda jadi sebarang kerja
Hukum adil atas rakyat
Tanda raja beroleh inayat
Kasihkan orang yang berilmu
Tanda rahmat atas dirimu
Hormat akan orang yang pandai
Tanda mengenal kasa dan cindai
Ingatkan dirinya mati
Itulah asal berbuat bakti
Akhirat itu terlalu nyata
Kepada hati yang tidak buta
Tamatlah gurindam yang duabelas pasal yaitu karangan kita
Raja Ali Haji pada tahun Hijrah Nabi kita seribu
dua ratus enam puluh tiga kepada tiga likur
hari bulan Rajab Selasa jam pukul lima
Negeri Riau Pulau Penyengat
Peduli Pendidikan Bermutu 5 Agustus 2011
Posted by waluyos in Uncategorized.2 comments
Oleh : Said Aqil Sirajd
Dalam bahasa Arab, istilah pendidikan disebut tarbiyah, sebuah kata yang sarat makna yang masih seakar dengan kata riba (uang yang selalu berkembang), rabwah (tanah tinggi), dan rabb (sifat Alloh yang senantiasa memelihara, mencintai, dan mendidik).
Pendidikan Islam secara umum adalah upaya sistematis untuk membantu anak didik agar tumbuh berkembang mengaktualkan potensinya berdasarkan kaidah-kaidah moral Al Qur’an, ilmu pengetahuan, dan ketrampilan hidup. Dengan ungkapan normatif keagamaan, pendidikan berfungsi memfasilitasi agar seseorang tumbuh menjadi pribadi yang hdup berlandaskan tauhid atau abdullah. Secara vertikal, pribadi demikian hanya mau bersujud dihadapan kebesaran Alloh, menyatakan haram menyembah sosok manusia ataupun jabatan.
Jika seseorang telah menjadi abdullah, dia juga memiliki misi sebagai khalifatullah untuk mewujudkan sifat Ilahi dalam aktivitas hidupnya. Sistem sekolah adalah salah satu bagian saja dari sebuah proses pendidikan yang cakupannya begitu luas dan proesnya berlangsung sepanjang hayat. Disayangkan, ada kecenderungan pemahaman dan proses pendidikan ini telah direduksi menjadi sebuah sekolah di ruang tertutup yang mengandalkan kurikulum serta tatap muka antara guru dan murid. Rendahnya mutu pendidikan nasional berakibat langsung pada rendahnya mutu SDM umat Islam.
Apalagi citra pelajar tenagh terganggu oleh citra yang negatif, baik yang dikaitkan dengan narkoba, perkelahian, budaya mencontek, maupun pergaulan bebas. Ini semua membuat potret dunia pendidikan di Indonesia kelihatan suram dan pesimistis.
Sesungguhnya dunia pesantren memiliki aset dan dimensi pendidikan yang amat berharga untuk memajukan pendidikan dan memberdayakan potensi masyarakat. Sayangnya, potensi unggul pesantren yang begitu murah, merakyat dan mengajarkan ketrampilan hidup kurang diapresiasi dan didukung secara optimal dengan memasukkan komponen modern.
Kita perlu merenung, betapa banyak energi umat Islam telah terbuang untuk hal-hal yang tidak produktif. Konflik sektarian telah menguras aset umat Islam, sementara dunia pendidikan telantar. Islam tidak lagi menjadi pusat peradaban dunia karena perhatian kita semakin kecil dalam upaya mengembangkan lembaga keilmuan, riset, dan peradaban.
Kita mesti hemat dalam membelanjakan uang pribadi maupun negara, kecuali dalam satu hal , yaitu pendidikan. Itulah yang dilakukan Korea Selatan dan Malaysia yang telah dimulai pada decade 1970-an dan kini mereka menuai hasilnya. Sementara itu, Indonesia senang membangun beton-beton dan hidup konsumtif-koruptif.
Membangun generasi, sedikitnya memerlukan waktu 20-25 tahun, sebagaimana dilakukan Nabi Muhammada SAW. Artinya , selama masa penantian itu kita harus kerja keras merawat “tanaman” kita sambil berpuasa; menahan diri dari hidup mewah. Kalau gaya hidup konsumtif-koruptif terus berlanjut sehingga investai manusia melalui program pendidikan tetap terlantar, tak ayal ini artinya kita tengah menghancurkan rumah bangsa sendiri. Hancurnya peradaban dunia disebabkan minimnya pengembangan pusat-pusat pendidikan yang bermutu.
1. Diambil dari rubrik “hikmah”, REPUBLIKA (Kamis, 14 Juli 2011)
Benih Dalam Sekam 19 April 2011
Posted by waluyos in Cerpen.add a comment
Maghrib menjelang, rintik gerimis sudah mulai reda, hamparan sawah luas tampak menghijau. Sesekali tetesan air turun beruntun dari daun-daun bambu yang tertiup angin,gerimis tadi menyisakan tetesan air di lembar-lembarnya, berisik gesekan daunnya begitu menentramkan. Matahari pelan-pelan tenggelam dalam jejeran pohon-pohon yang membentang disepanjang ufuk barat.
Aku sudah bersih dan rapih, selepas Ashar tadi sudah beres masak nasi dan sayur, lalu memandikan adikku yang bungsu, Asri. Tadinya dia berontak tidak mau dimandikan, tapi karena aku bujuk akhirnya dia mau. Sekarang ia lagi diajak main sama Rio, adikku yang pertama yang berusia sebelas tahun. Seperti biasa yang seharusnya memandikan Asri adalah ibu, tapi sekarang ibu dan ayah sedang pergi ke rumah paman di Karawang, istri pamanku sedang melahirkan. Ayah dan pamanku memang dekat silaturrahminya, hampir setiap Hari Raya Idul Fitri keluarga paman datang ke rumah. Kabar tentang istri paman yang melahirkan baru Subuh datang, tetapi ayah dan ibu langsung bergegas untuk berangkat ke rumah paman. Selang dua jam mereka sudah siap untuk berangkat. Kebetulan hari ini hari Minggu, aku dipasrahi untuk jaga Asri dan Rio dirumah dan memasak untuk sore. Ayah bilang paling lama dia pulang ba’da Maghrib, itupun karena mereka mampir sholat Maghrib di jalan.
***
Tik, tok, tik, tok……
Bunyi jarum jam dinding semakin nyaring terdengar, pukul 07.05, sudah hampir Isya!. Aku keluar sebentar untuk memastikan siapa tahu ayah dan ibu sudah dekat. Tak ada tanda-tanda ayah dan ibu pulang. Desa ini begitu sepi, mencekam sekali saat malam menjelang. Tak ada penerangan jalan di sini, bahkan untuk sekedar lampu bohlam 5 watt pun tak ada. Dulu sempat diberi penerangan tapi sejak ada penertiban dari PLN lampu tidak pernah ada lagi, maklum sumbernya listriknya illegal, langsung pasang dari tiang listriknya, terlebih sempat marak kasus pencurian lampu jalan, itulah sebabnya masyarakat sekarang enggan memasang lampu jalan, termasuk ayahku.
Perasaanku mulai tidak enak, hatiku resah, apa mungkin ada masalah di jalan? Ah mana mungkin,kalau ada masalah di jalan pasti paling tidak sekarang sudah sampai, Isya sudah lewat!. Apa mungkin ayah dan ibu bertengkar di jalan? Atau mereka hanya mencari alasan untuk pergi dan mereka memutuskan bercerai tanpa sepengetahuan anak-anaknya?. Memang belum lama ini, sekitar empat hari yang lalu aku sempat mendengar mereka bertengkar, hanya karena Rio meminta uang untuk jajan dan ayah melarang ibu untuk memberikan, ayah membanting asbak alumunium hingga penyok, sampai akhirnya mereka saling menyalahkan dan baru berhenti setelah Asri menangis. Dihadapanku aku tidak pernah secara langsung melihat, tetapi adikku Rio pernah menyaksikannya dan tetanggaku juga mengakui hal itu. Kemarin ibu juga bilang bahwa ayah akhir – akhir ini bersikap aneh, sehingga ibu menaruh curiga pada ayah. Akupun begitu, aku melihat ayah sudah tidak perhatian kepada ibu seperti dulu.
Dari awal pernikahan mereka, memang seperti bermasalah karena ibu dijodohkan kakek dengan ayah yang notabenenya dulu menjabat sebagai perangkat desa yang cukup disegani. Ibu pernah bercerita bahwa perkenalan mereka tidak cukup tahu satu sama lain, tetapi karena kakek telah menemukan hari baik berdasarkan kelahiran ayah dan ibu, akhirnya mereka dijodohkan dengan segera. Awalnya ibu merasa tidak masalah, justru ingin memenuhi permintaan kakek sebagai bukti ia bukan anak yang durhaka, tetapi selang beberapa hari pasca pernikahan, ibu merasa ditipu ayah karena ternyata ayah banyak meminjam uang pada saudaranya untuk biaya lamaran ibu, ayah sebenarnya tidak memiliki kekayaan yang cukup seperti yang ibu pikir ketika melamarnya. Sampai akhirnya seperti sekarang, memiliki TV, rumah semi tembok dan bisa menyekolahkan anaknya, ibu bersikeras bahwa itu karena harta yang dibawa ibu. “Tanpa itu semua, ayahmu tidak akan bisa seperti ini!” kata Ibu menasehatiku. Dan alasan itulah yang dipakai ibu ketika ibu dipersilahkan minggat dari rumah ketika mereka bertengkar, tidak tahu apakah saat itu ayah sudah mengucapkan talak atau belum karena aku tak paham tentang itu. Ibu bertahan sampai saat ini karena ada aku dan adik-adikku, pasalnya sebelum kakek meninggal beliau berwasiat untuk membesarkan aku dan jangan menyakiti perasaanku sampai aku menikah dan hidup mandiri.
“Kak! Kak Maya…… Asri menangis kak, cepat kak!” . Panggilan Rio tiba-tiba membuyarkan lamunanku.
“Ya Allah kenapa Asri menangis dan susah diam ya, tidak biasanya Asri seperti ini!” gumamku dengan pikiran yang semakin tidak karuan. Asri biasa menangis malam sebentar dan setelah di beri susu pasti tertidur lelap. Kenapa Asri menangis begini ya? Apa ada hubungannya dengan belum pulangnya ayah dan ibu?, firasatku tidak enak.
“Kak, kenapa ibu dan ayah belum pulang juga ya?, aku takut kak!” seloroh Rio dengan muka menatap lurus padaku.
“Udah sekarang Rio berdoa ya! Supaya ibu dan ayah cepat pulang, sekarang sholat Isya ya!”
Tangisan Asri memecah keheningan, hingga mengundang Bu Lik datang. Bu Lik adalah adik dari ibuku, dialah orang yang kerap menyaksikan pertengkaran ayah dan ibuku di saat aku dan Rio tidak di rumah. Terlepas dari benar atau gaknya cerita dari Bu Lik aku masih bisa percaya omongannya, setahuku Bu Lik tidak pernah ada masalah dengan keluargaku.
“Kenapa nangis terus, tidak biasanya! Ibunya belum pulang ya!”
“Iya bu, ga tahu kenapa ibu dan ayah belum pulang juga!”
“Kalau jam segini mah sudah gak pulang May, sudah tidak ada angkot dari Prembun ke selatan, mending Asri sekarang digendong, dininabobokan coba! Biar cepat tidur, keingetan ibunya mungkin!”
“Iya Bu!”
Benar kata Bu Lik tadi, kalau jam segini mana mungkin bisa pulang, sudah tidak ada angkot lagi, ojek sepi pasti. Ya Alloh lindungilah orang tuaku, Amiiin!
Aku tidak habis pikir kalau sampai mereka benar bercerai!. Tapi kalau tidak ada masalah kenapa sampai sekarang belum pulang juga, Pamanku tidak mungkin menghalangi keinginan ayah kalau dia mau pulang!. Aduh!! Astaghfirullahal’adzim, pikiranku semakin kusut dan ruwet, aku merasa nyeri di bagian tulang pelipis, pusing banget!
***
Ya Allah, Sudah jam 07.00, kenapa ayah dan ibu belum pulang juga ya? Benar kata Bu Lik semalam. Pikiranku masih memikirkan bagaimana kondisi keluarga jika ayah dan ibu benar-benar bercerai, rasanya aku semakin yakin dengan kekhawatiranku semalam. Selepas aku masak pagi dan memandikan Asri, aku mulai pusing-pusing, lebih sakit dari yang semalam. Jantungku berdegup semakin kerap, sementara bibirku terus mengucap istighfar. Aku gak tahu kenapa kepalaku jadi sakit sepeerti ini, mungin karena kekhawatiranku pada ayah dan ibu. Nyeri di kepalaku rasanya semakin tak tertahankan. Aku segera melepas tali gendongan Asri dipundakku dan meletakkannya di matras lantai, aku biarkan Asri bermain dengan Rio. Napasku semakin renggang namun sakit di kepalaku tak kunjung enyah. Sudah empat kali aku meminum obat sejak semalam, tetapi rasanya obat itu tidak bekerja dengan optimal. Tiba-tiba aku merasa berkunang-kunang, pandanganku menjadi semakin gelap, urat kaki dan tanganku lemah.
“Kak Maya ada yang ketuk pintu di depan kak! Kak Maya, Kak Maya kenapa kak, kak Maya……..”
***
Mentari pagi telah menggantung di langit, waktu sudah dhuha, embun pagi baru saja menetes dari pucuk-pucuk daun, tetapi ambisi dan keragu-raguan akan tetap jadi musuh manusia yang misterius.
Slamet Waluyo
BPB, Bandung 2011
Menjadikan Safety Riding Sebagai Budaya Berkendara 17 Januari 2011
Posted by waluyos in Uncategorized.8 comments
Menjadikan Safety Riding Sebagai Budaya Berkendara
Pernah suatu saat saya dan kakak ipar saya mengendarai vespa dengan kondisi vespa hasil modifan, tapi kosongan tanpa memiliki speedometer, lampu depan dan spion. Layaknya orang naik sepeda, kami mengendarai vespanya pun tanpa memakai helm, dan perlengkpan lain. Dan surat berkendara seperti SIM dan STNK pun kami tidak membawanya karena kami pikir kami hanya ingin membeli bohlam sebentar di toko elektronik, tetapi letak toko elektronik tersebut di jalan yang merupakan jalan antar provinsi. Aku sudah mengingatkan kakakku untuk setidaknya memakai helm agar tidak kena tilang (bukti pelanggaran) akan tetapi kakak iparku menolak dan menyuruhku untuk tidak pakai helm, akhirnya aku nurut saja. Ketika kami melintas di gardu jaga polosi lalu lintas kami mengendarainya dengan santai tanpa sedikitpun ragu, kakak iparku justru tancap gas, sehingga laju vespa menjadi lebih kencang. Aku yang di bonceng dibelakang sempat melihat seorang polisi lalu lintas yang melihat kami hanya menatap, saya kira kami akan ditilang tetapi setelah agak jauh saya lihat polisi tadi masih menatap pasrah. Kamipun kegirangan, kakakku merasa bangga karena dugaannya benar kalau kita tidak akan ditilang.
Selang beberapa lama, truk yang di depan kami tiba- tiba mengerem mendadak dan tampak diseberang jalan seorang pengendara sepeda motor terseret roda belakang truk container dan naasnya aku melihat badannya terlindas hingga isi perutnya keluar dan aku lihat juga pahanya tampak terbelah, aku merinding melihatnya, tubuhku seolah tak berdaya. Rupanya pengendara motor yang terlindas itu mau manyalip kontainer tetapi dia kaget karena ada truk dari arah berlawanan yang melaju kencang yaitu truk yang didepan kami tadi. Dia mengurangi kecepatan tetapi tubuhnya tersenggol badan truk, motornya terlempar ke samping yang menyebabkan truk di depan kami berhenti mendadak, dan tubuhnya jatuh dan terlindas roda kontainer. Memang pengendara tadi tidak memakai helm hanya memakai jaket saja, itupun jaketnya tidak memadai.
Dari pengalaman tersebut saya menyesal tidak memakai perlengkapan berkendara standar walaupun tidak terjadi apa-apa. Dan saya menghimbau bagi masyarakat bahwa ketika berkendara taruhannya adalah nyawa sehingga perlengkapan standar berkendara harus digunakan secara lengkap dan jangan pernah meremehkan walaupun bukan perjalanan jauh. Beruntung kami saat itu tidak terjadi apa-apa tetapi apakah faktor keberuntungan selalu datang, dan kecelakaan itu tidak tahu kapan terjadinya. So, jangan pernah menyepelekan aturan yang ada.
Air Berkualitas untuk Masa Depan 15 Januari 2011
Posted by waluyos in Uncategorized.Tags: Air untuk Masa Depan, Masa Depan
3 comments
Air Berkualitas untuk Masa Depan
Air adalah fasa zat yang penting bagi kehidupan makhluk hidup. Makhluk hidup memerlukan air sebagai pelarut zat-zat, pengangkut dan penghasil energi (tenaga) dalam tubuh makhluk hidup tersebut. Manusia memerlukan air tidak hanya untuk keperluan konsumsi semata, tetapi juga untuk keperluan rumah tangga. Berbeda dengan makhluk lain, manusia lebih banyak membutuhkan air, terutama untuk keperluan rumah tangga seperti mandi, mencuci dan lainnya.
Dewasa ini kebutuhan air terutama air bersih semakin meningkat seiring meningkatnya jumlah populasi penduduk. Sedangkan air bersih yang ada tidak mencukupinya. Besarnya kebutuhan air bersih terutama di daerah perkotaan dimana air tanahnya banyak dicemari oleh limbah industri dan sampah, menyebabkan adanya aktivitas pengeboran air artesis. Hal ini berdampak pada penurunan elevasi tanah terhadap muka laut dan sulitnya air tanah di perkotaan.
Air Berkualitas
Air yang diperlukan tubuh bukan sembarang air, bahkan air bersih belum cukup, harus air yang sehat. Air yang sehat sanagt penting karena mempengaruhi kualitas manusia yang mengkonsumsinya. Air yang sehat memenuhi syarat fisik, kimia, dan biologis. Syarat fisik air sehat adalah tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa. Syarat kimiawi air sehat adalah mengandung oksigen terlarut (DO/Dissolved Oxygen) yang cukup tinggi dan kandungan mineral tertentu dengan batas konsentrasi maksimum masing-masing. Syarat biologis yaitu harus memenuhi kondisi BOD (Bio Oxygen Demand) sampai batas yang ditentukan serta bebas dari mikroba dan bakteri lain. Tidak hanya itu, tingkat kandungan mineral air juga harus diperhatikan karena berpengaruh pada tingkat kesadahan air.
Berbagai bencana seperti banjir, sangat berpengaruh pada kualitas air terutama yang sifatnya terbuka. Jika banjir, kebutuhan akan air bersih akan sulit karena sumber air/ sumur tercemar oleh air kotor. Tidak hanya itu, tingkat kandungan mineral air juga harus diperhatikan karena berpengaruh pada tingkat kesadahan air.
Penggunaan teknologi dalam sanitasi air sangat perlu baik teknologi konvensional (instalasi penjernihan air bersih) maupun modern (reverse osmosis) . Aktivitas penebangan pohon dan penggundulan hutan sangat merugikan karena air hujan yang jatuh ke tanah menyebabkan run-off tanpa menyerap ke dalam tanah. Hal ini berefek pada jumlah air dalam tanah sehingga sering kali ketika musim kemarau terjadi kekeringan.
Kualitas air sangat penting bagi ketergunaanya air oleh karena itu Air Untuk Masa Depan saja tidak cukup harus Air Berkualitas untuk Masa Depan.
Sahabat Harus Dekat 15 Januari 2011
Posted by waluyos in Uncategorized.10 comments
Sahabat Harus Dekat
“Dik, aku duluan ya!” kata Arif sembari berjalan menuju pintu angkot.
“Ya. Eh, nanti sore bisa belajar bareng ga?”
“Aku ga bisa, Sabtu aja ya!. Da……”
Aku dan Arif sudah bersahabat sejak SMP, kami bertemu saat pendaftaran seleksi masuk SMP dan ternyata kami sekelas selama 3 tahun. Di situlah kami akrab. Kami memiliki hobi dan kesenangan yang berbeda, tetapi untuk masalah akademik, kami adalah pasangan yang akrab. Aku sering main ke rumah Arif demikian pula Arif sering main ke rumah ku, tetapi hanya untuk keperluan belajar bersama, kami jarang membicarakan hal lain di luar itu.
“Dik, udah pulang? Bagaimana tadi di sekolah?” tanya ibuku seraya melongok kamarku.
“Udah, Bu. Hari ini Dodik terpilih sebagai tim sepak bola mewakili sekolah. Pertandingannya lusa dan semua pemain harus memakai seragam sepak bola lengkap, sedangkan Dodik tidak punya sepatu bolanya!”
“Ibu lagi ga ada uang, Dik.Dagangan Ibu tidak terjual habis. Kamu pinjam dulu sama teman ya!” sahut Ibuku.
“Temanku? Kan mereka juga pakai sendiri buat pertandingan besok. Arif? Dia kan gak suka sepak bola mana mungkin dia punya sepatu bola!” pikirku.
“Temanku, sepatunya juga dipakai buat pertandingan dan latihan. Ga ada lagi yang nganggur Bu!”
“Ya udah. Besok Ibu pinjam uang sama Pak Marjo!” tuturnya dengan nada menenangkan.
Pak Marjo adalah satu-satunya orang terkaya di kampung kami. Dia suka meminjamkan uangnya pada warga kampung tetapi dengan bunga yang ditentukan. Ibuku besok pagi akan meminjam uang padanya. Sebenarnya aku tidak ingin Ibuku meminjam uang padanya tetapi tidak ada orang lain yang bisa meminjami dan aku juga butuh sepatu bola itu.
“Dik kamu gak ke kantin?” serobot A rif.
“Gak Rif, uang jajanku mau saya kumpulkan buat bayar…”
“Bayar apa? Emangnya kamu ada utang?”
“Ibuku…. Kemarin ibuku pinjam uang sama rentenir buat beli sepatu bola dan tadi pagi sudah ditagih-tagih, dan belum ada uang”.
“Beli sepatu bola? bukannya biasanya kalau latihan sepatunya bebas ya?”
“Jumat kemarin aku lolos sebagai pemain mewakili sekolah buat kompetisi futsal dan harus memakai seragam lengkap.”
“Kamu kenapa kemarin ga ngomong padahal hari Sabtu paman ku memberi hadiah sepatu bola, akhirnya sorenya aku balikin lagi soalnya aku tidak suka main bola.” tegasnya.
Aku tertunduk, “Betapa bodohnya aku kemarin meremehkan Arif!” pikirku dalam hati.
Hikmah cerita tersebut:
1. Persahabatan itu seharusnya bisa saling terbuka sehingga mengerti masalah dan kondisi satu sama lain.
2. Jangan menganggap sesuatu itu salah sebelum kita memastikan bahwa itu memang salah, apalagi hanya karena perasaan atau kebiasaan saja.
3. Jangan memaksakan kemampuan kita sama seperti orang lain karena setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Berhikmah di BlogCamp.
Kisah Harun Al Rasyid dengan Syaqiq al-Bakhli 14 Januari 2011
Posted by waluyos in Uncategorized.add a comment
Ada sebuah percakapan antara Harun Al Rasyid, seorang khalifah Dinasti Abbasiyah dengan Syaqiq al-Bakhli, seorang tokoh sufi hebat. Ketika itu Harun Al Rasyid meminta nasihat tentang kewajiban seorang pemimpin.
“Ya Syaqiq, nasihatilah aku ini…..!”
Syaqiq pun menjawabnya, “Apa yang harus aku nasihatkan kepadamu..? Engkau khalifah yang sangat berhasil memakmurkan negeri dan rakyatmu. Engkaulah khalifah ahli ibadah, sederhana dan hati-hati. Rakyat menghormatimu, terus apalagi kekuranganmu….?”
Atas jawaban ini Harun Al Rasyid melanjutkan,”Nasihatilah aku tentang kewajiban seorang pemimpin…!”.
“Baiklah…!” kata Syaqiq.“Dengarkan, seandainya engkau sendirian sedang melakukan perjalanan ke suatu negeri melewati padang pasir yang luas dan panas, yang hanya bisa ditempuh dalam satu hari perjalanan. Di tenagh perjalanan engkau kehausan yang teramat sangat, kalau kau tidak minum sebotol air maka engkau tidak akan sampai ke ujung padang pasir tersebut. Engkau akan mati di perjalanan. Tiba-tiba engaku berpapasan dengan seorang pengembara yang membawa bekal air yang cukup. Tentunya engkau akan minta berbagi bekal air bukan…? Dan pengembara itu akan memberikan sebotol air yang engkau butuhkan, namun dengan syarat pengembara meminta setengah kerajaanmu untuk imbalan sebotol air yang engkau minta. Apakah engkau akan setuju dengan syarat yang diajukan?”
“Ooh, tentu saja. Aku akan berika setengah kerajaanku daripada aku mati kehausan. Perjalanan dan perjuanganku masih panjang.” jawab Harun Al Rasyid.
“Baiklah, setelah engkau minum tentunya engkau segar kembali, engkau tentu akan melanjutkan perjalanan. Kemudian pada seperempat perjalanan terakhir, engkau ingin buang air kecil. Ternyata engkau kesulitan dan kesakitan yang amat sangat, tidak bisa buang air kecil, kandung kemihmu kembung sakit luar biasa. Kalau tidak segera diobati engkau akan mati di perjalanan. Tiba-tiba engkau bertemu dengan seorang tabib yang dapat menyembuhkan penyakityang engkau derita. Tentunya engaku akan minta agar tabib tersebut menyembuhkan penyakit tadi bukan..? dan sebagia penggantinya tabib tersebut meminta syarat setengah kerajaanmu tadi. Bagaiman, engkau setuju..?” lanjut Syaqiq.
“Yaa.. aku setuju sisa setengah kerajaanku tidak berarti apa-apa dibanding penyakit yang membahayakan hidupku!” jawab Harun Al Rasyid.
Mendengar jawaban itu meledaklah Syaqiq, “Hahaha…! Sekarang, apa yang patut engkau sombongkan? Ternyata kerajaanmu nilainya tidak lebih dari sebotol air minum dan segelas air kencing… Dan ternyata engkau selama ini hanya memimpin sebotol air minum dan segelas air kencing..!”.
Jawaban ini membuat Harun Al Rasyid menangis tersedu-sedu, perkataan ini sangat mengena kesadarannya.
(dikuti dari buku “Togog Menggugat Negeri Maling”,Djoko B.)

